AUTOBIOGRAFI
Jusmidar lahir di Sei Panji-panji,
Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, tanggal 15 Februari 1992. Putri kedua
dari pasangan Sulaiman dan Rohana. Ayah saya adalah seorang petani yang
penghasilannya hanya sedikit menanam sawit, dari hasil sawit itulah biaya untuk
kuliah saya. Selain itu dari hasil sawit yang tidak seberapa itu juga ayah saya
membiayai semua keluarga termasuk makan untuk sehari-hari. Terkadag saya
kasihan melihat ayah saya yang begitu sudah tua namun masih semangat dalam
membiayai kehidupan keluarganya. Saya sangat menyukai sifat nya yang keras yang
membuat semua anaknya patuh terhadap apa yang diperintahkannya. Kadang saya
berfikir saya ingin mempunyai sifat seperti ayah saya yang keras sehigga
orang-orang tidak mudah menyepelekan hidup orang lain. Dan ibu saya hanya
seorang ibu rumah tangga yang begitu rajin, menyayangi keluarganya dan sangat
suka memanjakan saya kalau sudah pulang dari kampong orang. Ibu saya selalu
berpesan kepada saya “jagalah diri baik-baik di tempat orang jangan suka
keluyuran yang tak tentu arah”, Itulah yang saya ingat. Saya sangat sayag
kepada ibu saya dan bagi saya ibu adalah segalanya bagi saya walau terkadang
ibu saya itu sangat cerewet dan mengomel terus dan dia juga paling tidak suka
melihat saya pergi jalan-jalan bersama teman-teman saya.
Jumlah bersaudara saya sebanyak 4 orang, izul
anak yang pertama, saya sendiri anak yang kedua, dewi anak yang ketiga yang
sebentar lagi mempunyai momongan, dan yang keempat bukhori sekarang masih duduk
di kelas 2 SMP. Kami berempat jarang bertemu dikarenakan saya dari SMK dulu
jarang bertemu disebabkan saya kos di tempat sekolah dan jauh dari orang tua.
Oleh karena itulah saya jarang bertemu dengan abang maupun adik-adik saya. Saya
menyelesaikan pendidikan dasar di tempat kelahiran, diwaktu sekolah dasar saya
mempunyai peringkat yang lumayan baik yaitu memperoleh juara kelas antara juara
1 dan juara 2. Selain itu saya juga aktif dalam acara Pramuka dan pernah
mengikuti lomba Gerak jalan yang memperoleh peringkat pertama.
Kemudian saya melanjutkan pendidikan di SMP N
02 Kubu, Rantau Panjang Kiri, dengan jarak tempuh dari rumah menuju sekolah
sekitar 8 kilo. Untuk menempuh perjalanan sepanjang itu saya harus melakukan
jalan kaki setiap hari menuju sekolah, dengan perjalanan selama 2 jam. Itulah
hal yang paling sakit sewaktu smp. Namun, walaupun demikian saya selalu
berusaha dan ikhlas dalam menjalani itu semua, karena jika saya tidak melakukan
seperti itu maka saya tidak mungkin sampai melanjutkan ke kuliah ini. Di waktu
SMP saya juga aktif mengikuti acara pramuka dan aktif di bidang OSIS. Setelah
saya tamat smp, akhirnya orangtua saya memutuskan untuk menyekolahka saya
ditempat saudara, selain itu saya harus pisah dari orangtua dan memilih untuk
ngekos. Untuk pertamanya memang terasa sulit untuk pisah, tapi di balik itu
semua saya juga berfikir semua yang dilakukan orangtua saya itu hanya
semata-mata untuk kebaikan saya untuk masa depan. Kenapa saya harus pisah dari
orangtua, hal yang pertamanya itu dikarenakan orangtua saya tidak mau melihat
kembali anaknya untuk berangkat ke sekolah harus jalan kaki lagi. Itulah hal
yang pertama kenapa orangtua saya menyuruh saya untuk mengekos dan pisah
darinya.
Kemudian setelah membuat keputusan yang
seperti itu, saya melanjutkan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) di Balam
Sempurna Km 36 Balai Jaya, tempat dimana yang telah ditentukan oleh orangtua
saya. Pada waktu itu saya mengambil jurusan Administrasi Perkantoran. Diwaktu
saya SMK, selain saya menguasai di
bidang perkantoran juga ikut OSIS yaitu di bidang Seni.
Masuk kelas XI semester II saya
melakukan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di Torgamba Sumatera Utara. Praktek
tersebut berlangsung selama 3 bulan mulai dari tanggal 10 Januari sampai 10
April, PKL itu menurut saya sangat menarik dan memperluas pengetahuan terutama
di bidang Perkantoran. Setelah saya lulus dari SMK dengan nilai yang lumayan
memuaskan, saya berniat untuk melajutkan kuliah di Medan bidang Keperawatan,
tetapi karena tidak rezekinya kesana akhirnya saya di beri keputusan oleh orang
tua saya untuk melanjutkan kuliah ke Pekanbaru. Karena saya tidak niat ke
Pekanbaru akhirnya orang tua saya yang mengurusnya bersama abang sepupu saya yang
kuliah di Universitas Islam Riau dengan jurusan Hukum. Untuk hal yang pertama
saya di daftarkan di Universitas Riau ( UR ) dengan pilihan pertama tentang
Administrasi dan yang kedua Administrasi Negara. Untuk melakukan tes saya harus
berangkat ke Pekanbaru bersama teman-teman yang lain, sampai di Pekanbaru saya
merasa takut karena itulah hari pertama saya menginjakkan kaki ke Pekanbaru,
setelah saya melakukan tes maka waktunya untuk kembali ke kampungnya
masing-masing dan di saat itu pula saya ditinggal pergi oleh teman-teman saya
yang lain. Mereka meninggalkan saya di Pekanbaru sendirian yang mana saya tidak
tahu jalan arah mau pulang sedikit pun, dan pada akhirnya saya harus memerlukan
bantuan abang sepupu saya kembali.
Setelah beberapa hari akhirnya saya
melihat hasil tes waktu di UR dan hasilnya ternyata saya tidak lulus. Sedikit
merasa kecewa dan putus asa saya tidak ingin melanjutkan kemana-mana lagi,
tetapi karena adanya motivasi dan dorongan dari orang tua akhirnya saya
memutuskan untuk ikut pendaftaran di Universitas Islam Riau ( UIR ) yang batas
pendaftaran tersebut tinggal dua hari lagi pada gelombang kedua. Sebelum
melakukan tes dan mengisi formulir saya memilih untuk mengambil jurusan
Administrasi Negara, tetapi karena tidak ada yang mendukung dan banyak yang
protes akhirnya saya mengambil jurusan Bahasa Indonesia tanpa kemauan saya
sendiri. Tetapi selama dalam proses perkuliahan saya mencoba untuk menyukai dan
mencoba untuk mencintai jurusan yang sudah saya pilih yaitu jurusan Bahasa
Indonesia.
Setelah saya menyukai jurusan Bahasa
Indonesia ternyata banyak hal yang membuat saya kagum akan jurusan ini,
terutama dosen nya yang begitu ramah dan masih muda-muda yang mana dalam proses
pembelajaran berlangsung selain memperoleh pelajaran juga memperoleh arti dari
kehidupan yang dijelaskan oleh masing-masing dosen. Selain itu juga saya juga
memperoleh motivasi untuk lebih giat lagi dalam memahami arti dari bahasa
Indonesia jurusan saya sekarang. Walaupun terkadang sulit memahaminya dan
selalu mendapatkan kegagalan, tetapi saya akan terus berusaha untuk
mengetahuinya secara perlahan, karena kegagalan itu kunci dari keberhasilan.
Selanjutnya, setelah saya kuliah di UIR
juga hal yang pertama saya masuk ke UIR saya merasa sendiri karena tidak
mempunyai teman yang di kenal, Semuanya serba baru. Saya merasa tersisih dan
merasa malu untuk bergabung dengan teman yang lain. Memang dalam waktu OSPEK
saya mempunyai teman yang bernama Siska, selama OSPEK itu saya hanya berteman
dengan dia. Tetapi setelah pembagian kelas saya terpaksa pisah dengan dia,
karena saya mendapatkan kelas A sedangkan dia mendapatkan kelas E. Selama saya
tidak bersama dia lagi saya mencoba dengan teman sekelas saya yaitu yang
bernama Selly, Rini, Yati. Kami berempat sangat akrab, kemana pun kami pergi
selalu bersama-sam. Tidak beberapa lama saya berteman dengan keempat itu ada
salah satu teman dari kami yang kurang cocok berteman dengan kami dan akhirnya
dia tidak bersama kami lagi. Cukup begitu lama kami tidak saling berbicara dan
kami hanya tinggal bertiga saja, sampai naik ke tingkat semester III barulah
kami saling memaafkan yaitu tepatnya seminggu akan datang bulan ramadhan tahun
lalu. Tetapi walaupun kami sudah saling memaafkan, rasa keakraban itu sudah
tidak seperti yang dulu lagi, akrabnya hanya sekedar saja dan berbicara pun
tidak seperti yang dulu lagi. Jika saya pikirkan kenapa dalam persahabatan itu
selalu ada suatu hambatan, saya hanya bisa menjawab mungkin jika tidak ada
suatu hambatan atau permaalahan sesuatu itu tidak aka nada rasa istimewanya.
Dalam melalui hari-hari perkuliahan juga ada yang senang ada pula yang
sedihnya, semua itu bercampur menjadi satu. Tapi walaupun demikian saya selalu
berusaha keras dalam menghadapinya, sampai pada semester III inipun
Alhamdulillah saya masih merasa semangat dalam menjalankan semuanya. Dalam
semester III saya mempunyai teman yang sangat saya sayangi, mereka selalu
mengerti saya dalam keadaan apapun dan mereka sangat istimewa bagi saya.
Walaupun saya tidak tahu bagaimana perasaan mereka terhadap saya. Diantara
mereka ada salah satu yang selalu membantu saya ketika saya dalam keadaan yang
sulit, dia selalu ada ketika saya membutuhkan. Saat saya tidak bisa mengerjakan
tugas sendiri diapun selalu membantu saya dengan penuh keikhlasan. Saya berharap
persahabatan ataupun pertemanan ini dapat berjalan dengan baik sampai kami
selesai nantinya.
Selain itu, sewaktu saya ngekos juga
saya mempunyai teman walaupun kami tidak sekamar. Saya juga sangat sayang
kepadanya dalam keadaan apapun, semua yang saya miliki saya selalu berbagi
dengannya. Apapun yang di kirim orangtua saya, saya tidak akan pernah lupa
dengannya. Tetapi semua itu hanya di balas dengan suatu hinaan yang sanngat
menyakitkan hati. Saya tidak pernah menyangka semua itu bisa terjadi, begitu
tega dia memperlakukan saya seperti itu. Walaupun demikian saya hanya bisa
bersyukur karena sudah mengenal orang yang seperti itu, jika saya tidak kenal
orang seperti itu maka saya tidaka akan tahu bagaimana perjalanan suatu
pertemanan itu.
Ini ada teman saya dalam satu kelas pada waktu acara
di mesjid Annur Pekanbaru. Kami memang ramai yang pergi tapi hanya sebagian
yang mendapatkan foto. Dalam acara ini sangat ramai yang berkunjung untuk
menyaksikannya begitu megah dan sangat meriah untuk menyaksikannya.
Selanjutnya saya akan menceritakan
tentang percintaan saya, yaitu dengan orang yang paling saya sayangi. Tetapi
walaupun kami saling menyayangi kami tidak ditakdirkan untuk bersatu. Entah
karena apa, yang hanya saya tahu kedua orangtua saya beserta saudara-saudara
saya tidak ada satupun yang merestui kami. Dalam perjalanan cinta kami banyak
rintangan yang selalu kami hadapi tapi kami selalu bertahan dan terus bertahan
sampai akhirnya saya merasa lelah dan ber saya mencoba berfikir jernih. Jika
saya terus melalui ini semua itu akan sia-sia karena suatu hubungan yang tidak
direstui oleh kedua orangtua semuanya tidak akan berjalan dengan lancar dan
akan semakin banyak rintangan, dan paa akhirnya juga saya memutuskan untuk
melupakannya untuk selama-lamanya.
Kemudian dalam waktu SMK juga setelah
saya memutuskannya saya mencoba membuka hati saya untuk orang lain walaupun
susah tapi saya selalu berusaha, bila tidak berusaha selamanya saya akan serus
menerus terpuruk. Setelah saya jalani dengan yang baru awalnya saya merasa
bahagia karena kedua orangtua dan saudara-saudara saya semuanya merestui
hubungan kami dan akhirnya saya melanjutkannya sampai saya berlanjut ke
perkuliahan ini. Walaupun saya tetap menjalaninya tetapi saya selalu merasa
sedih karena terlalu sayangnya dia terhadap saya, saya selalu dikekang untuk
berteman dengan siapapun., saya tidak boleh keluar, tidak boleh telponan sama
orang lain dan semuanya. Karena saya sangat menyayanginya juga saya selalu
mengikuti kemauannya apapun itu saya melakukannya dengan ikhlas walau terkadang
saya merasa bosan dan lelah dengan perlakuannya. Hubungan kami pun berjalan
sampai sekarang sudah hampir memasuki tiga tahun, dan saya berharap dialah
penjaga saya untuk selama-lamanya. Dalam hubungan jarak jauh yang kami lalui
seperti sekarang ini terkadang sangat membosankan dan terkadang sangat
menyenangkan. Hal yang membosankan itu karena selalu rebut mungkin karena tidak
pernah bertemu, dan hal yang menyenangkan itu karena salah satunya saya di sini
tidak pernah keluyuran ataupun keluar malam seperti yang lainnya. Selain untuk
kesehatan saya, juga untuk keselamatan saya selama berada di tengah-tengah
keramaian hidup di kota.
Tetapi setelah begitu lama saya jalani
juga dan mencoba untuk selalu setia ternyata di belakang saya dia mencoba
selingkuh. Sungguh menyakitkan bagi saya karena sudah di selingkuhi, saya tidak
pernah melakukan kesalahan apalagi sampai selingkuh, ternyata di balik
kesetiaan saya selama ini hanya dibalas dengan kebohongan dan kepalsuan yang
sangat menyakitkan dan tak pernah bisa untuk saya lupakan untuk selama-lamanya.
Sampai sekarang sudah memasuki semester
IV saya merasa kurang percaya jika ada orang yang ingin mendekati saya, saya
masih merasa trauma atas kejadian yang pernah saya alami. Semoga suatu saat
nanti semua ini tidak akan terulang lagi dan suatu saat nanti juga semuanya
akan berjalan dengan baik sesuai yang saya inginkan. Dan hal yang paling
penting adalah semua yang saya cita-citakan semuanya tercapai dan saya berharap
bisa membahagiakan kedua orangtua saya, aminnnn.