Kamis, 27 Februari 2014

AUTOBIOGRAFI Q



AUTOBIOGRAFI
Jusmidar lahir di Sei Panji-panji, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, tanggal 15 Februari 1992. Putri kedua dari pasangan Sulaiman dan Rohana. Ayah saya adalah seorang petani yang penghasilannya hanya sedikit menanam sawit, dari hasil sawit itulah biaya untuk kuliah saya. Selain itu dari hasil sawit yang tidak seberapa itu juga ayah saya membiayai semua keluarga termasuk makan untuk sehari-hari. Terkadag saya kasihan melihat ayah saya yang begitu sudah tua namun masih semangat dalam membiayai kehidupan keluarganya. Saya sangat menyukai sifat nya yang keras yang membuat semua anaknya patuh terhadap apa yang diperintahkannya. Kadang saya berfikir saya ingin mempunyai sifat seperti ayah saya yang keras sehigga orang-orang tidak mudah menyepelekan hidup orang lain. Dan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga yang begitu rajin, menyayangi keluarganya dan sangat suka memanjakan saya kalau sudah pulang dari kampong orang. Ibu saya selalu berpesan kepada saya “jagalah diri baik-baik di tempat orang jangan suka keluyuran yang tak tentu arah”, Itulah yang saya ingat. Saya sangat sayag kepada ibu saya dan bagi saya ibu adalah segalanya bagi saya walau terkadang ibu saya itu sangat cerewet dan mengomel terus dan dia juga paling tidak suka melihat saya pergi jalan-jalan bersama teman-teman saya.
 Jumlah bersaudara saya sebanyak 4 orang, izul anak yang pertama, saya sendiri anak yang kedua, dewi anak yang ketiga yang sebentar lagi mempunyai momongan, dan yang keempat bukhori sekarang masih duduk di kelas 2 SMP. Kami berempat jarang bertemu dikarenakan saya dari SMK dulu jarang bertemu disebabkan saya kos di tempat sekolah dan jauh dari orang tua. Oleh karena itulah saya jarang bertemu dengan abang maupun adik-adik saya. Saya menyelesaikan pendidikan dasar di tempat kelahiran, diwaktu sekolah dasar saya mempunyai peringkat yang lumayan baik yaitu memperoleh juara kelas antara juara 1 dan juara 2. Selain itu saya juga aktif dalam acara Pramuka dan pernah mengikuti lomba Gerak jalan yang memperoleh peringkat pertama.
 Kemudian saya melanjutkan pendidikan di SMP N 02 Kubu, Rantau Panjang Kiri, dengan jarak tempuh dari rumah menuju sekolah sekitar 8 kilo. Untuk menempuh perjalanan sepanjang itu saya harus melakukan jalan kaki setiap hari menuju sekolah, dengan perjalanan selama 2 jam. Itulah hal yang paling sakit sewaktu smp. Namun, walaupun demikian saya selalu berusaha dan ikhlas dalam menjalani itu semua, karena jika saya tidak melakukan seperti itu maka saya tidak mungkin sampai melanjutkan ke kuliah ini. Di waktu SMP saya juga aktif mengikuti acara pramuka dan aktif di bidang OSIS. Setelah saya tamat smp, akhirnya orangtua saya memutuskan untuk menyekolahka saya ditempat saudara, selain itu saya harus pisah dari orangtua dan memilih untuk ngekos. Untuk pertamanya memang terasa sulit untuk pisah, tapi di balik itu semua saya juga berfikir semua yang dilakukan orangtua saya itu hanya semata-mata untuk kebaikan saya untuk masa depan. Kenapa saya harus pisah dari orangtua, hal yang pertamanya itu dikarenakan orangtua saya tidak mau melihat kembali anaknya untuk berangkat ke sekolah harus jalan kaki lagi. Itulah hal yang pertama kenapa orangtua saya menyuruh saya untuk mengekos dan pisah darinya.
Kemudian setelah membuat keputusan yang seperti itu, saya melanjutkan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) di Balam Sempurna Km 36 Balai Jaya, tempat dimana yang telah ditentukan oleh orangtua saya. Pada waktu itu saya mengambil jurusan Administrasi Perkantoran. Diwaktu saya SMK,  selain saya menguasai di bidang perkantoran juga ikut OSIS yaitu di bidang Seni.
Masuk kelas XI semester II saya melakukan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di Torgamba Sumatera Utara. Praktek tersebut berlangsung selama 3 bulan mulai dari tanggal 10 Januari sampai 10 April, PKL itu menurut saya sangat menarik dan memperluas pengetahuan terutama di bidang Perkantoran. Setelah saya lulus dari SMK dengan nilai yang lumayan memuaskan, saya berniat untuk melajutkan kuliah di Medan bidang Keperawatan, tetapi karena tidak rezekinya kesana akhirnya saya di beri keputusan oleh orang tua saya untuk melanjutkan kuliah ke Pekanbaru. Karena saya tidak niat ke Pekanbaru akhirnya orang tua saya yang mengurusnya bersama abang sepupu saya yang kuliah di Universitas Islam Riau dengan jurusan Hukum. Untuk hal yang pertama saya di daftarkan di Universitas Riau ( UR ) dengan pilihan pertama tentang Administrasi dan yang kedua Administrasi Negara. Untuk melakukan tes saya harus berangkat ke Pekanbaru bersama teman-teman yang lain, sampai di Pekanbaru saya merasa takut karena itulah hari pertama saya menginjakkan kaki ke Pekanbaru, setelah saya melakukan tes maka waktunya untuk kembali ke kampungnya masing-masing dan di saat itu pula saya ditinggal pergi oleh teman-teman saya yang lain. Mereka meninggalkan saya di Pekanbaru sendirian yang mana saya tidak tahu jalan arah mau pulang sedikit pun, dan pada akhirnya saya harus memerlukan bantuan abang sepupu saya kembali.
Setelah beberapa hari akhirnya saya melihat hasil tes waktu di UR dan hasilnya ternyata saya tidak lulus. Sedikit merasa kecewa dan putus asa saya tidak ingin melanjutkan kemana-mana lagi, tetapi karena adanya motivasi dan dorongan dari orang tua akhirnya saya memutuskan untuk ikut pendaftaran di Universitas Islam Riau ( UIR ) yang batas pendaftaran tersebut tinggal dua hari lagi pada gelombang kedua. Sebelum melakukan tes dan mengisi formulir saya memilih untuk mengambil jurusan Administrasi Negara, tetapi karena tidak ada yang mendukung dan banyak yang protes akhirnya saya mengambil jurusan Bahasa Indonesia tanpa kemauan saya sendiri. Tetapi selama dalam proses perkuliahan saya mencoba untuk menyukai dan mencoba untuk mencintai jurusan yang sudah saya pilih yaitu jurusan Bahasa Indonesia.
Setelah saya menyukai jurusan Bahasa Indonesia ternyata banyak hal yang membuat saya kagum akan jurusan ini, terutama dosen nya yang begitu ramah dan masih muda-muda yang mana dalam proses pembelajaran berlangsung selain memperoleh pelajaran juga memperoleh arti dari kehidupan yang dijelaskan oleh masing-masing dosen. Selain itu juga saya juga memperoleh motivasi untuk lebih giat lagi dalam memahami arti dari bahasa Indonesia jurusan saya sekarang. Walaupun terkadang sulit memahaminya dan selalu mendapatkan kegagalan, tetapi saya akan terus berusaha untuk mengetahuinya secara perlahan, karena kegagalan itu kunci dari keberhasilan.
Selanjutnya, setelah saya kuliah di UIR juga hal yang pertama saya masuk ke UIR saya merasa sendiri karena tidak mempunyai teman yang di kenal, Semuanya serba baru. Saya merasa tersisih dan merasa malu untuk bergabung dengan teman yang lain. Memang dalam waktu OSPEK saya mempunyai teman yang bernama Siska, selama OSPEK itu saya hanya berteman dengan dia. Tetapi setelah pembagian kelas saya terpaksa pisah dengan dia, karena saya mendapatkan kelas A sedangkan dia mendapatkan kelas E. Selama saya tidak bersama dia lagi saya mencoba dengan teman sekelas saya yaitu yang bernama Selly, Rini, Yati. Kami berempat sangat akrab, kemana pun kami pergi selalu bersama-sam. Tidak beberapa lama saya berteman dengan keempat itu ada salah satu teman dari kami yang kurang cocok berteman dengan kami dan akhirnya dia tidak bersama kami lagi. Cukup begitu lama kami tidak saling berbicara dan kami hanya tinggal bertiga saja, sampai naik ke tingkat semester III barulah kami saling memaafkan yaitu tepatnya seminggu akan datang bulan ramadhan tahun lalu. Tetapi walaupun kami sudah saling memaafkan, rasa keakraban itu sudah tidak seperti yang dulu lagi, akrabnya hanya sekedar saja dan berbicara pun tidak seperti yang dulu lagi. Jika saya pikirkan kenapa dalam persahabatan itu selalu ada suatu hambatan, saya hanya bisa menjawab mungkin jika tidak ada suatu hambatan atau permaalahan sesuatu itu tidak aka nada rasa istimewanya. Dalam melalui hari-hari perkuliahan juga ada yang senang ada pula yang sedihnya, semua itu bercampur menjadi satu. Tapi walaupun demikian saya selalu berusaha keras dalam menghadapinya, sampai pada semester III inipun Alhamdulillah saya masih merasa semangat dalam menjalankan semuanya. Dalam semester III saya mempunyai teman yang sangat saya sayangi, mereka selalu mengerti saya dalam keadaan apapun dan mereka sangat istimewa bagi saya. Walaupun saya tidak tahu bagaimana perasaan mereka terhadap saya. Diantara mereka ada salah satu yang selalu membantu saya ketika saya dalam keadaan yang sulit, dia selalu ada ketika saya membutuhkan. Saat saya tidak bisa mengerjakan tugas sendiri diapun selalu membantu saya dengan penuh keikhlasan. Saya berharap persahabatan ataupun pertemanan ini dapat berjalan dengan baik sampai kami selesai nantinya.
Selain itu, sewaktu saya ngekos juga saya mempunyai teman walaupun kami tidak sekamar. Saya juga sangat sayang kepadanya dalam keadaan apapun, semua yang saya miliki saya selalu berbagi dengannya. Apapun yang di kirim orangtua saya, saya tidak akan pernah lupa dengannya. Tetapi semua itu hanya di balas dengan suatu hinaan yang sanngat menyakitkan hati. Saya tidak pernah menyangka semua itu bisa terjadi, begitu tega dia memperlakukan saya seperti itu. Walaupun demikian saya hanya bisa bersyukur karena sudah mengenal orang yang seperti itu, jika saya tidak kenal orang seperti itu maka saya tidaka akan tahu bagaimana perjalanan suatu pertemanan itu.
Ini ada teman saya dalam satu kelas pada waktu acara di mesjid Annur Pekanbaru. Kami memang ramai yang pergi tapi hanya sebagian yang mendapatkan foto. Dalam acara ini sangat ramai yang berkunjung untuk menyaksikannya begitu megah dan sangat meriah untuk menyaksikannya.
Selanjutnya saya akan menceritakan tentang percintaan saya, yaitu dengan orang yang paling saya sayangi. Tetapi walaupun kami saling menyayangi kami tidak ditakdirkan untuk bersatu. Entah karena apa, yang hanya saya tahu kedua orangtua saya beserta saudara-saudara saya tidak ada satupun yang merestui kami. Dalam perjalanan cinta kami banyak rintangan yang selalu kami hadapi tapi kami selalu bertahan dan terus bertahan sampai akhirnya saya merasa lelah dan ber saya mencoba berfikir jernih. Jika saya terus melalui ini semua itu akan sia-sia karena suatu hubungan yang tidak direstui oleh kedua orangtua semuanya tidak akan berjalan dengan lancar dan akan semakin banyak rintangan, dan paa akhirnya juga saya memutuskan untuk melupakannya untuk selama-lamanya.
Kemudian dalam waktu SMK juga setelah saya memutuskannya saya mencoba membuka hati saya untuk orang lain walaupun susah tapi saya selalu berusaha, bila tidak berusaha selamanya saya akan serus menerus terpuruk. Setelah saya jalani dengan yang baru awalnya saya merasa bahagia karena kedua orangtua dan saudara-saudara saya semuanya merestui hubungan kami dan akhirnya saya melanjutkannya sampai saya berlanjut ke perkuliahan ini. Walaupun saya tetap menjalaninya tetapi saya selalu merasa sedih karena terlalu sayangnya dia terhadap saya, saya selalu dikekang untuk berteman dengan siapapun., saya tidak boleh keluar, tidak boleh telponan sama orang lain dan semuanya. Karena saya sangat menyayanginya juga saya selalu mengikuti kemauannya apapun itu saya melakukannya dengan ikhlas walau terkadang saya merasa bosan dan lelah dengan perlakuannya. Hubungan kami pun berjalan sampai sekarang sudah hampir memasuki tiga tahun, dan saya berharap dialah penjaga saya untuk selama-lamanya. Dalam hubungan jarak jauh yang kami lalui seperti sekarang ini terkadang sangat membosankan dan terkadang sangat menyenangkan. Hal yang membosankan itu karena selalu rebut mungkin karena tidak pernah bertemu, dan hal yang menyenangkan itu karena salah satunya saya di sini tidak pernah keluyuran ataupun keluar malam seperti yang lainnya. Selain untuk kesehatan saya, juga untuk keselamatan saya selama berada di tengah-tengah keramaian hidup di kota.
Tetapi setelah begitu lama saya jalani juga dan mencoba untuk selalu setia ternyata di belakang saya dia mencoba selingkuh. Sungguh menyakitkan bagi saya karena sudah di selingkuhi, saya tidak pernah melakukan kesalahan apalagi sampai selingkuh, ternyata di balik kesetiaan saya selama ini hanya dibalas dengan kebohongan dan kepalsuan yang sangat menyakitkan dan tak pernah bisa untuk saya lupakan untuk selama-lamanya.
Sampai sekarang sudah memasuki semester IV saya merasa kurang percaya jika ada orang yang ingin mendekati saya, saya masih merasa trauma atas kejadian yang pernah saya alami. Semoga suatu saat nanti semua ini tidak akan terulang lagi dan suatu saat nanti juga semuanya akan berjalan dengan baik sesuai yang saya inginkan. Dan hal yang paling penting adalah semua yang saya cita-citakan semuanya tercapai dan saya berharap bisa membahagiakan kedua orangtua saya, aminnnn.